March 2010


Hari minggu, waktunya pergi ke gereja tentu semua umat Kristiani sudah tau itu :). Ada yang istimewa di hari minggu ini, karena merupakan awal memasuki pekan suci menyambut perayaan Paskah. Ibadat ini merupakan perayaan minggu palma otomatis semua gereja dihiasi dengan daun palma.

Mengingat tahun lalu kami kebagian teriknya panas ketika perarakan palma, kami sepakat untuk ikut minggu palma lebih pagi. Minggu lalu pastor menghimbau agar umat membawa daun palma untuk diberkati di gereja.

Tibalah hari itu, bangun pagi2 dan siap brangkat ke gereja.
Nora: daun palmanya gmn?
Detta: itu aja, ambil di perempatan, bawa gunting gak?
Rosa: o iya kita bawa aja.

Sampe di perempatan, kami mulai memilih2 mana yang bagus, dan mulai mengambil sesuai keinginan. Cukup menguras tenaga, karena ternyata kami lupa bawa gunting.
Tiba2 ibu pemilik daun palma keluar dari rumahnya dengan senyuman bersahabat,
Rosa: ibu, maaf kita ambil daunnya ya 🙂
Ibu: gpp, ambil aja, saya mau kasih pisau, kayaknya tadi susah ambilnya 🙂
Rosa,Nora dan Detta: :), makasih ya buk

Ternyata upaya kami mengambil daun palma diperhatikan si ibu,,xixixixixi. Memang sih si ibu sudah mengerti, hampir tiap tahun kami mengambil daun palmanya :). Semoga daun palmanya makin berbunga terus dan ibu sekeluarga selalu diberkati NYA.

Akhirnya tiba di gereja dan dapat mengikuti perayaan dengan penuh syukur.

Selamat memasuki pekan suci. Gb

Advertisements

Mereka diambil dari tempatnya yang tertata rapi, bersih dan dingin, dan kemudian segera dibawa kekasir untuk dibayar sehingga sah menjadi hak milik.

Mereka tinggal di atap yang sama, tetapi diruangan dan pemilik yang berbeda.

Mereka sangat disayangi oleh pemiliknya dengan bentuknya yang cantik dan lucu. Yang satu imut dan menawan, yang lain besar dan gagah.

Mereka telah merasakan pahitnya kopi, manisnya gula dan lezatnya susu. Hari lepas hari, bulan lepas bulan, bahkan tahun lepas tahun,  tak terasa sudah hampir 4 tahun mereka bersama pemiliknya.

Malam itu terjadilah peristiwa tersebut, tanpa disengaja yang imut dan menawan kena tendangan, mengakibatkan dia pecah. Dengan perasaan sedih sang pemilik mengutarakan isi hati si imut

A : apakah yang besar masih utuh?
B : tentu donk 😀
A : harusnya mereka sama2 terpecahkan juga ya. (dengan perasaan sedih serpihan yang imut dikumpulkan dan dibuang)

Keesokan harinya, hampir di jam yang sama, pemilik yang besar berteriak: “Dia juga terpecahkan, dan pecahannya persis sama seperti pecahan kemaren 😦 ”

Sekianlah kisah sepasang gelas, tragis dan menyentuh.