Gak terasa, harus da balik ke jkt lagi, seperti biasa tetap berat untuk melangkah. Sampe di bandara, mengikuti ritual check-in di bandara yang memusingkan dan tidak terkoordinasi baik.

Dengan usaha mengumpulkan semangat aku berjalan dan menaiki tangga pesawat akhirnya duduk. Seorang bapak tua dengan sigap duduk di sebelahku. Dari casing sepertinya pak tua itu pensiunan angkatan. Terjadilah dialog singkat,

Pak Tua: Tinggal di jakarta.
Aku: Ya Pak.
Pak Tua: ke Medan , jalan2?
Aku: nggak Pak, orang tua tinggal di medan Pak
Pak Tua: oOo, jadi di jakarta kerja. Boru batak ya?
Aku: Ido Pak🙂
Pak Tua: bah hurippu cina manang na nias.
Aku:🙂 (yang benar donk Pak, kaca mata dipake donk, mata gede gini dibilang cina OMG)
Pak Tua: boru aha ma ho, au sagala🙂
Aku: boru manalu Pak.
Pak Tua: nga berkeluarga ho?
Aku: belum Pak.
Pak Tua: nahh,, ima naposo nuaeng, lalap diparkarejoan dan tidak punya keberanian (dengan wajah serius)
Aku:🙂 (hanya senyum tak bisa komen apapun)
Pak Tua: Jangan takut untuk menikah, karna memang harus dijalani. Jadi harus menikah ya.
Aku:🙂 Iya Pak. (senyum lagi)

Dialog berhenti karena si Pak Tua harus menerima telpon. (Dasar, udah tau di dalam pesawat pesawat elektronik harus off!)

Pak Tua: Jadi kerja dimana kau?
Aku: di BPOM pak, (agak kaget, karena Pak Tua tadi tiba2 ngobrol lagi)
Pak Tua: oOo, yg Jl. percetakan itu ya.
Aku: Tepat sekali Pak. Kerja dimana Pak?
Pak Tua: Bisnis rental mobil di utan kayu, dulu pensiunan dari AURI
Aku: oOo (benar dugaanku, dia pensiuan dari angkatan). Di medan ada keluarga Pak?
Pak Tua: anak satu di sini, ntah kenapa gak ingin tinggal di medan, sudah lebih enak di jakarta. Di Medan tidak enak.
Aku: Ya kan, bisnisnya di Jakarta Pak.

Dialog berhenti, setelah penumpang lain duduk di sebelahku, casingnya sih kayak pejabat paroh baya. Sama aja kayak si Bapak Tua kerjanya nelpon terus. Ternyata mendisplinkan diri sendiri itu paling susah.

Para pramugari beraksi sperti biasa, dan aku pejamkan mata, berdoa dan akhirnya tertidur.

zZZzzzzz,,,,,,,,,,

sejam berlalu, aku terbangun, ternyata sudah lebih sejam aku tertidur, dan tinggal sejam lagi, akan tiba di jakarta. Aku pinjam koran si Pak Tua yang sedang nganggur.

Sedang asik membaca, penumpang yang lain disebelahku menyapaku,

Penumpang lain: Tinggal di mana mba?
Aku: di daerah percetakan negara, tinggal dimana Pak?
Penumpang lain: Di Medan, ke jakarta mau jalan2 aja, gak kebayang kalo tinggal di jakarta mba, Macet dan penuh.
Aku: namanya juga Jakarta🙂. Aslinya medan.
Penumpang lain: Pujakesuma, aslinya solo. Medan itu menyenangkan. walaupun gak lolos ketika calon bupati di deli serdang, tetap aja betah tinggal di sumut.
Aku: oOo🙂 (Apa hubungan betah dan gak lolos calon bupati ya😀 )

Ada2 aja ya, Pak Tua di sebelahku, asli sumut, tapi tidak ingin lagi tinggal di sumut, si pujakesuma asli solo gak ingin kembali ke solo karna sudah betah di medan.

Akhirnya tiba juga di BUSH, setelah menyapa Pak Tua dan penumpang lain, aku berlalu menuju pengambilan bagasi.